2 Jun 2013

PEMERINTAHAN (KERAJAAN-KERAJAAN) ARAB KUNO SEBELUM ISLAM


PEMERINTAHAN (KERAJAAN-KERAJAAN) ARAB KUNO SEBELUM ISLAM
Makalah
 Disusun untuk memenuhi tugas Dirasat Al-Mujtama Al-Arabiyah 1
Dosen pengampu :
M.Anwar Mas’adi.M.A



Disusun Oleh :
Lilis Rena Susanti       (10310084)
Aminatuz Zahrak        (10310058 )
Saiful Hadi                (10310039 )
Eko David Syifaur R. (10310022 )

JURUSAN BAHASA DAN SASTRA ARAB
FAKULTAS HUMANIORA DAN BUDAYA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2013

 
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Berbicara seputar histoire ( perancis ), historie ( Belanda ) dan History ( inggris )[1] memang terkesan me-riview akan apa yang terjadi dalam rekaman masa lalu silam, apalagi berbicara seputar bangsa Arab sebelum islam. Berbagai fenomena selalu teringat dalam fikiran generasi bangsa. Hanya orang-orang yang masih belum memahami sejarah kota Sayyid al mursalin saja yang tak tau menahu bahkan cuek ketika berbicara seputar madinatur rasul.
Haruslah kita ketahui bersama selaku bangsa semi-Arab sedikit banyak keadaan kerajaan bangsa arab pra-islam. Mengapa demikian karena dalam bangsa arab lah bangsa yang mula-mula menerima agama islam dan di akui atau tidak akan menjadi mercusuar ilmu pengetahuan bagi penjuru dunia dari segi perdagangan dan budaya yang ada dalam bangsa tersebut.
Kalau boleh jujur, bangsa Arab adalah salah satu negara yang amat sangat di segani oleh bangsa Eropa, Amerika dan bangsa yang lainnya. Di dalam negara Arab tersebut menyimpan banyak hasil bumi yang secara politis, mereka para penguasa yang secara diam-diam mengeksploitasi akan hasil tanam dan bumi yang ada di negara Arab tersebut di serap ke nagaranya masing-masing sehingga lambat laun seiring berjalannya waktu bangsa arab hanya di kenal sebagai pusat kajian keislaman pada abad ke-8H hingga sekarang. Bahkan nilai-nilai yang dulunya terkenal oleh bangsa luar bahwa arab adalah penghasil rempah-rempah dan wewangian[2] .
Kita mencoba untuk flas back sedikit akan kondisi sosial bangsa Arab. Bangsa Arab sebagian besar penduduknya adalah gurun pasir dan hanya sedikit orang yang mengetahui akan hal demikian. Yang dapat kita ketahui dari sejarah mereka hanyalah yang di mulai kira-kira 150 tahun sebelum islam. Adapun yang sebelumnya itu tidaklah dapat di ketahui. Hal tersebut disebabkan karena bangsa arab penduduk padang pasir itu terdiri atas berbagai macam suku bangsa yang selalu berperang-perang. Peperangan itu pada asal mulanya di timbulkan oleh keinginan memelihara hidup karena hanya siapa yang kuat sajalah yang berhak memiliki tempat-tempat yang berair dan padang rumput tempat mengembalakan ternak. Adapun si lemah, dia hanya berhak mati atau jadi budak[3].

B.     Rumusan Masalah
1.      Kerajaan-kerajaan yang terdapat pada bangsa Arab kuno sebelum Islam.
2.      Letak geografis kerajaan Arab kuno sebelum Islam.
3.      Kondisi social, politik dan agama yang di anut kerajaan Arab kuno sebelum Islam.

C.     Tujuan Masalah
1.      Untuk mengetahui apa saja kerajaan-kerajaan yang terdapat pada bangsa Arab kuno sebelum Islam
2.      Untuk mengetahui letak geografis kerajaan Arab kuno sebelum Islam
3.      Untuk mengetahui kondisi social, politik dan agama yang di anut kerajaan Arab kuno sebelum Islam






BAB II
PEMBAHASAN

A.    Letak Geografis Kerajaan Arab Kuno
Begitu memandang peta Asia Barat Daya (Peta 1), terlihat sejumlah fakta penting. Satu kawasan tanah yang luas-Jaziarah Arab- terbentang dari Asia sampai ke lautan di sekitarnya. Lebarnya 1.200 mil, panjangnya 1.500 mil. Jazirah ini terhubung dngan Asia mealui pusat gurun dan sabit daratan yang subur dan hijau. Di  ujung barat sabit yang berbatasan dengan mediterania, curah hujan memadai bagi tumbuhnya biji-bijian dan sayur-sayuran. Di kawasan tanah tingginya, tumbuh pohon zaitun dan buah-buahan. Diujung selatan sabit, titik pertemuan Benua Asia dan Afrika, yaitu selat suez dan tanah genting Aqobah, curah hujan semakin berkurang, menghampar gurun sampai ke pantai mediterania. Di ujung timur, buminya lebih hijau dengan adanya dua sungai, yaitu sungai Tigris dan Eufrat. Kedua sungai ini hulunya ada di kawasan tanah tinggi di utara, dan airnya mengalir melewati tanah datar dan terus ke Teluk  Arab (Persia), di timur semenanjung. Di Utara dan Timur, yang melewati mahkota sabit hijau ini, terdapat gunung-gnung yang belum pernah dilintasi penghuni jazirah sebelum Islam. Di sisi lainnya ada beberapa lautan : Laut Mediterania di barat lautnya, Laut Merah di baratnya, Laut arab dan Samudra India di selatan dan timurnya. Di pantai barat Jazirah menjulang deretan gunung yang dikenal dengan nama Hijaz yang memisahkan antara dataran gurun dan pantai. Kedudukannya yang demkian menyebabkan curah hujan semakin bertambah kearah selatan, menjadikan sudut barat dayanya sehijau dan sesbur daerah utaranya. Di sudut ini terhampar Yaman, yang secarah harfiah “ tanah yang diberkati,” atau “ felix arabia” adalah jazirah, begitu juga mahkota dan lehernya, “ Sabit Subur.” Masing-masing merupakan kesinambungan dari yang lain, dan tidak dapat dipahami tanpanya. Gurun Jazirah membentang sampai keujung sabit, berbatasan dengan Jazirah. Berbeda dengan kebiasaan umum, kami akan menerapkan nama “ Arabia “ untuk Jazirah Arab dan sabit subur. Terdapat banyak bukti yang dapat memperkuat penerapan baru ini. (Al-faruqi, 1998 : 41)

B.     ARAB SEBELUM ISLAM
          Melihat bahasa dan hubungan dagang bangsa Arab, Leboun berkesimpulan, tidak mungkin bangsa Arab tidak pernah memiliki peradaban yang tinggi, apalagi hubungan dagang itu berlangsung selama 2000 tahun. Ia yakin, bangsa Arab ikut memberi saham dalam peradaban dunia, sebelum mereka bangkit kembali pada masa Islam. Golongan Qohthaniyun, misalnya, pernah mendirikan kerajaan saba` dan kerajaan himyar di yaman, bagian selatan jazirah Arab. Kerajaan saba` inilah yang membangun bendungan Ma`rib, sebuah bendungan raksasa yang menjadi sumber air untk seluruh wilayah kerajaan. Pada masa kejayaannya, kemajuan kerajaan saba` di bidang kebudayaan dan peradaban, dapat dibandingkan dengan kota-kota dunia lain saat itu. Bekas-bekas kerajaan ini sekarang masih terbenam dalam timbunan tanah. Pada masa pemerintahan saba`, bangsa Arab menjadi penghubung perdagangan antara eropa dan dunia Timur Jauh. Setelah kerajaan mengalami kemunduran, muncul kerajaan Himyar menggantikannya. Kerajaan baru ini terkenal dengan kekuatan armada niaga yang menjelajah mengarngi India, Cina, Somalia dan Suatera ke pelabuhan-pelabuhan Yaman. Perniagaan ketika itu dapat dikatakan dimonopoli Himyar.
         Terutama etelah bendungan Ma`rib runtuh, masa gemiang kerajaan Himyar seikit demi sedikit memudar. Banyak bangunan roboh dibawa air dan sebagian besar penduduk mengungsi ke bagian Utara Jazirah. Meskipun demikian karena daerahnya berada pada jalur perdagangan yang srategis dan tanahnya subur, daerah ini tetap menjadi incaran kerajaan besar Romawi dan Persia yang slalu bersaing untuk menguasainya.
          Di sebelah Utara Jazirah juga pernah berdiri kerajaan-kerajaan. Tetapi kerajaan-kerajaan tersebut lebih merupakan kerajaan protektorat. Ini terjadi karena kafilah-kafilah romawi dan persia slalu mendapat gangguan dari suku-suku Arab yang memeras dan merampoknya. Untuk melindungi kafilah-kafilah itu, atas inisiatif kerajaan besar tersebut didirikanlah kerajaan Hirah di bawah perlindungan persia dan kerajaan ghasan di bawah perlindungan Romawi. Kedua kerajaan ini berkembang dalam waktu yang hampir bersamaan, yaitu kira-kira abad ketiga sampai abad kedatangan Islam. Raja-raja yang berkuasa umumnya berasal dari keturunan Arab Yaman.
         Bagian lain dari daerah Arab yang sama sekali tidak pernah dijajah bangsa oleh bangsa lain, baik karena sulit dijangkau maupun karena tandus dan miskin, adalah Hijaz. Kota terpenting di daerah ini adalah Makkah, kota suci tempat Ka`bah berdiri. Ka`bah pada masa itu bukan saja disucikan dan dikunjungi oleh penganut-penganut agama asli Makkah, teapi juga, oleh orang-orang Yahudi yang bermukin di sekitarnya.
          Setelah kerajaan himyar jatuh, jalur-jalur perdagangan didominasi oleh kerajaan Romawi dan Persia. Pusat perdagangan bangsa Arab serentak kemudian beralih ke daerah Hijaz. Makkahpun menjadi mashur dan disegani.jadi, apa yang berkembang menjelang kebangkitan Islam itu merupakan pengaruh dari budaya bangsa-bangsa di sekitarnya yang lebih awal maju dari pada kebudayaan dan peradaban Arab. Pengaruh tersebut masuk ke Jazirah Arab elalui beberapa jalur yang terpenting diantaranya adalah : (1) melalui hubungan dagang dengan bangsa lain (2) melaui-melaui kerajaan protektorat Hirah dan Ghassan dan (3) mauknya misi Yahudi dan Kristen. (Yatim, 2008 : 9-15).

C.    Kaum-kaum Arab
                   Para sejarawan membagi kaum-kaum Arab berdasarkan garis keturunan asal mereka menjadi tiga bagian yaitu :
1.      Arab ba`idah, yaitu kaum-kaum arab kuno yang sudah punah dan tidak mungkin melacak rincian yang cukup tentang sejarah mereka, seperti : Ad, Tsamud, Thasm, Judais, Imlaq (bangsa Raksasa) dan lain-lainnya.
2.      Arab Aribah, yaitu kaum-kaum Arab yang berasal dari garis keturunan Ya`rib bin Yasyjub bin Qahthan, atau disebut pula Arab Qahthaniyah.
3.      Arab musta`ribah, yaitu kaum-kaum Arab yang berasal dari garis keturunan Ismail, yang disebut pula Arab Adnaniyah.
         Tempat kelahiran Arab aribah (kaum Qahthan) adalah negri Yaman, lalu berkembang menjadi beberapa kabilah dan anak kabilah (marga), yang terkenal darinya ada dua kabilah, yaitu :
A.    Himyar, anak kabilahnya yang paling terkenal adalah Za`id al-Jumhur, Qudha`ah dan sakasik.
B.     Kahlan anak kabilahnya yang paling terkenal adalah Hamadan, Anmar, Thayyi, Madzhaj, Kinda, Lakham, Judzam, Azd, Aus, Khazraj dan anak cucu dari Jafnah yang merupakan para raja di Syam serta lain-lainnya.

Anak-anak kabilah (marga) Kahlan banyak yang pergi meninggalkan Yaman, lalu menyebar ke berbagai penjuru Jazirah. Ada yang mengatakan bahwa kepergian mereka terjadi menjelang banjir besar saat mereka mengalami kegagalan dalam perdagangan akibat tekanan dari Bangsa Romawi dan dikuasainya jalur perdagangan laut oleh mereka, dilumpuhkannya jalur darat serta keberhasilan mereka menguasai Mesir dan Syam, (dalam riwayat lain) dikatakan, bahwa kepergian mereka setelahterjadinya banjir besar tersebut.
Merupakan hal yang tidak dapat disangkal, bahwa disamping apa yang telah disebutkan diatas telah terjadipersaingan antara marga-marga Kahlan dan Himyar, yang berujung pada hengkangnya marga-marga Kahlan. Hal ini terbukti bahwa marga-marga Himyar tetap eksis disana, sedangkan Marga-marga Kahlan hengkang dari sana. ( Al-Mubarakfuri, 2001: 2-3).

D.    Kerajaan-kerajaan di utara
Sejarah mengenai kerajaan-kerajaan Arab utara sudah dikenal sejak masa Asyiria kuno dan Babilonia kuno. Dalam manuskrip-manuskrip Babilonia, misalnya, kita mengenal beberapa daerah Arab yang diserbu pasukan Babilonia, diantaranya adalah kerajaan Nabate (Nabasia, al-Anbaat). Selain itu, kita juga mengenal sebuah kota (oase) bernama Thema (Tayma) di tengah-tengah gurun pasir, yang merupakan tempat pengasingan Nabondius selama 7 tahun. Thema kemungkinan merupakan baian dari kerajan Nabate, dan dipercaya berada di semenanjung Arab, di sebelah tenggara kota Tabuk hari ini.

a.      Kerajaan Nabasia Kuno
Nabate atau Nabasia kuno adalah kerajaan besar. Hal itu terbukti bahwa mereka tidak dapat ditundukan oleh Iskandar Dzulkarnain. Bahkan sekitar 312 SM diberitakan penulis sejarah Diodorus, bahwa Nabasia berhasil menangkis 2 kali serangan pasukan Antigonius, Raja Asyiria, penerus Iskandar Dzulkarnain. Dari catatan Diodorus Siculus (w. 57 SM) terungkap bahwa Nabasia kemudian berada dalam kekuasaan Ptolemeus yang berkuasa di Mesir. Dan pada zaman Romawi menjadi sekutu kuat Romawi di Semenanjung Arab.
Pusat kerajaan Nabasia adalah Petra, yang pada sekitar abad ke-4 berhasil mereka rebut. Petra terletak di sekitar Wadi Musa (Lembah Musa), di timur laut Aqabah. Petra termasuk kota kunci bagi jalur perdagangan rute Wewangian dari Saba ke Mediterania. Hari ini Petra terkenal dengan reruntuhannya berupa bangunan dan pekuburan yang dipahat di tebing-tebing cadas.
Puncak kejayaan Nabasia kuno (yang terekam sejarah) diperkirakan terjadi pada kurun 9 SM – 40 M, pada periode pemerintahan Haritsats IV. Pada sekitar 105 Masehi, Nabasia jatuh ke tangan raja Tyra dan menjadi provinsi Romawi. (Hitti, 2008 : 83)

b.      Kerajaan Palmyra

Palmyra (Arab: Tadmur) merupaka kota kerajaan yang dihimpit kekuatan Romawi di Barat dan Persia di Timur. Pada abad 2-3 Masehi, kota Palmyra merupakan kota terkaya di kawasan Timur Dekat.Kapan tepatnya bangsa Arab menguasai Palmyra, tidak diketahui. Rujukan otentik pertama tentang kota tersebut datang dari Romawi, dimana disebutkan Mark Anthony pada 42-41 SM gagal menguasai kota tersebut. Catatan sejarah lebih lanjut menyebutkan bahwa dibawah pimpinan panglima Odainat (Arab: Udhyanah), Palmyra berhasil menaklukan sebagian besar daerah Suriah pada kurun 260 Masehi. Pada saat itu Palmyra merupakan sekutu kuat Romawi, dan raja mereka diangkat sebagai wakil Romawi (dux Orientis) di Timur, pada 262 Masehi. (Hitti, 2008 : 91)




c.      Kerajaan Gassan

Orang-orang Gasan mengklaim sebagai keturunan suku Arab selatan kuno. Mereka bermigrasi ke utara pada akhir abad ke-3 Masehi dipimpin oleh Amir Muzaqiyah ibn Amir Ma’a-l-Sama’. Jafna ibn Amir Muzaqiyah kemudian dikenal sebagai pendiri dinasti Gassan di Arab utara. Suku dari Yaman selatan ini mendesak keturunan Nabi Shalih, dan memantapkan keberadaan mereka di sekitar Damaskus.
Kerajaan Gassan, seperti musuh dan tetangganya sesama kerajaan Arab yakni kerajaan Lakhmi, mencapai kejayaan pada abad ke-6 Masehi. Pada kurun tersebut kisah raja-raja mereka, Ibnu Jabalah yang bergelar al-Harits II (529-569 M) dan al-Mundzir ibn al-Harits (anak Ibnu Jabalah), mendominasi sejarah bangsa Arab. Sebagaimana kerajaan-kerajaan Arab di sebelah barat sebelumnya, kerajaan Gassan bersekutu pula dengan Romawi–sementara kerajaan Lakhmi bersekutu dengan Persia. Raja-raja Gassan umumnya beragama Kristen.
Selepas periode al-Mundzir, kerajaan Gassan mengalami kemunduran dan berbagai suku di gurun Suriah mengangkat pemimpin masing-masing. Pada saat yang sama, Dinasti Sassanid dari Persia berhasil memukul Romawi di Jerusalem (613-614 M) di bawah Khusraw Parwiz. Kehilangan pemimpin yang dihormati dan kekalahan sekutu Romawi oleh Persia, mengakhiri Dinasti Gassan untuk selamanya. (Hitti, 2008 : 96)

d.      Kerajaan Lakhmi

Suku Tanukh dari Yaman selatan memulai pengembaraan sejak awal abad ke-3 Masehi melewati pesisir timur Jazirah Arab, dan menetap di sebelah Barat sungai Eufrat, dekat kota Kuffah, Irak. Kedatangan mereka berdekatan dengan jatuhnya Dinasti Arsasia di Persia, digantikan Dinasti Sasanid (226 Masehi).
Pada mulanya suku Tanukh hanya tinggal di tenda-tenda dan hidup nomaden. Namun seiring berjalannya waktu, perkemahan sementara mereka berubah menjadi pemukiman Hirrah (berasal dari bahasa Syria: herta, yang berarti kemah). Kota Hirrah ini pada akhirnya berkembang menjadi ibukota kerajaan Arab Persia, dan dikenal sebagai kerajaan Lakhmi, yang didirikan oleh Amir ibn ‘Adi ibn Nashr ibn Rabi’ah ibn Lakhm.
Kehadiran kerajaan Lakhmi di timur berbarengan dengan kerajaan Gassan di barat, dan berakhir hampir bersamaan. Raja terakhir Dinasti Lakhmi adalah al-Nu’man III (580-602 M), yang merupakan satu-satunya–dan yang terakhir–raja Lakhmi yang beragama Kristen. Perihal bahwa raja-raja sebelumnya tidak ada yang beragama Kristen, diduga demi kepentingan politik dan persekutuan dengan Persia yang merupakan musuh Romawi (Kristen). Al-Nu’man kemudian digantikan oleh Iyas ibn Qabisah dari Thayyi (602-611M), yang menjadi raja terakhir kerajaan Lakhmi. Pada masa pemerintahan Iyas, Persia menempatkan wakil kerajaannya di Lakhmi dan ‘mengontrol’ kerajaan Lakhmi. Pada 611M, Persia akhirnya menghapus sistem kerajaan protektorat Lakhmi dengan mengangkat gubernur Persia menjadi pemimpin tertinggi di Hirrah. Hirrah berhasil kembali direbut oleh bangsa Arab pada tahun 633 Masehi, ketika Khalid bin Walid memimpin pasukan Islam menaklukkan Hirrah. (Hitti, 2008 : 100)
e.       Kindah
Bila Gassan dan Lakhmi bersekutu dengan kerajaan asing, maka kerajan Kindah bersekutu dengan kerajaan Himyar dari Arab selatan. Kerajaan Kindah (480 M) berpusat lebih ke dalam, di sekitar Arab tengah. Pendiri kerajaan Kindah adalah al-Hujr yang bergelar Akil al-Murrar, yang merupakan saudara tiri Hasan ibn Thuba’, yang menjadi raja Himyar. Inilah satu-satunya kerajaan Arab yang merupakan konfederasi dari berbagai suku Arab–yang ditaklukan Thuba’ dari Himyar.
Pada 529 Masehi, kerajan Kindah jatuh ke tangan Al-Mundzir II dari kerajaan Lakhmi. Diceritakan al-Mundzir menghukum mati raja Kindah, al-Harits, beserta 50 orang keluarga kerajaan Kindah, yang merupakan pukulan mematikan bagi kerajaan Kindah. Pasca kematian al-Harits, konfederasi pecah dan masing-masing suku mengangkat pemimpinnya masing-masing. (Hitti, 2008 :105)
E.     Kerajaan-kerajaan di selatan
a.      Kerajaan Saba’
Kerajaan-kerajaan pertama yang berhasil di ketahui yang berdiri di wilayah arab selatan pada zaman kuno adalah kerajaan Saba’ dan Minea yang selama beberapa abad hidup pada masa yang sama. Kedua kerajaan itu pada awal berdirinya merupakan kerajaan teokrasi[4] dan kemudian berubah menjadi kerajaan sekuler. Orang-orang saba menurunkan seluruh keluarga arab selatan. Tanah saba atau sheba dalam injilo yang merupakan tanah air mereka terletak di sebelah selatan najran, di daerah yaman. Menurut                     sekolompok ahli tentang arab yang menggunakan kronologi singkat orang-orang saba hidup dari 750-115 SM. Dengan satu kali perubahan gelar raja sekitar 610 SM. Orang-orang mineaa hidup dari 700 SM hingga abad 3 masehi. Qarrib adalah gelar raja pendeta yang di berikan kepada kepala negara. Dua muqarrib saba terdahulu yaitu Yatsa’amar dan Karibail, di sebutkan dalam catatan sejarah Assyiria dari Sargon II dan Senacherif yanga memerintah pada akhir abad ke 8 dan awal abad ke 7 SM. pada masa kejayaannya, raja-raja saba memperluas hegemoni mereka ke seluruh kawasan arab selatan dan menjadikan kerajaan tetangganya yaitu minea sebagai negara protektoriatnya. Sirwah sehari perjalanan ke arah barat ma’rib adalah ibukota saba’, bangunan utamanya adalah kuil almaqah sang dewa bulan. Reruntuhan bangunannya yang paling penting di sebut karibahah yang bisa menampung tak kurang dari 100 orang. Sebuah tulisan menyebutkan bahwa dinding di sekitarnya di bangun oleh yada’il seorang muqarrib terdahulu. Tulisan lain menyebutkan bahwa ekspedisi geilang yang di lancarkan oleh karibail watar sekitar 450 SM yang pertama kali memperoleh gelar Mulk, seorang raja saba’
Pada periode ke dua kerajaan Saba’, sekitar 610-115 SM, penguasa tampaknya mulaimenghilangkan karakteristik kependetaanya. Ma’rib yang berjarak 6 Mil di sebelah timur san’an di jadikan sebuah ibu kotanya. Kota itu berada 3900 kaki diatas permukaan laut. Ia pernah di kunjungi o;eh beberapa geintir orang eropa yang pertama di antaranya adalah arnaud hallefi dan glasser. Kota itu merupakan titik temu berbagai rute perjalanan dagang yang menghubungkan antara negeri yang berhasil penghasil wewangian dengan pelabuhan di meditarenia terutama gaza.
Al hamdani dalam karyanya iklil menyebutkan 3 benteng di ma;rib, namun, kkontruksiyang membuat kotaitu terkenaladalah bendungan besar al ma’rib karya arsitektur yang menakjubkan berikut sarana publik lainnya yang di bangun oleh orang-orang saba’ memberikan gambarankepada kita tentang sebuah masyarakat cinta damai yang sangat maju bukan saja dalam bidangperdagangan tetapi juga dalambidang teknik. Bagian yang lebih tua dari bendungan itupada pertengahan abad ke 7 SM. Berbagai tulisan menyebutkan Sbhu ‘alaih yanuf dan putranya yatsa amr bayyin sebagai dua pembangun utamanya juga menyebutkan pemugaran pada masa sharahbiill ya’fur (449-450) dan abrahah dari avisinea (543 M) tabi’ alhamdani dan para penulis setelahnya yaitu almas’udi, al isfahani, dan ya’qut menyatakan bahwa yang membangunnya adalah luqman bin ad seorang ahli mistik. (Hitti, 2008 : 66).

b.      Keajaan Minea, Qataban, dan Hadramaut
Kerajaan minea berkembang di Jawf Yaman, dan pada masa keemasannya wilayah kerajaan itu meliputi sebagian besar kawasan Arab Selatan. Kata Ma’an berasal dari bahasa Arab  (dalam injil disebut Ma’on, Me’un, Me’in untuk nama tempat), kemudian mengalami perubahanvokal menjadi Ma’in, yang berarti mata air. Nama yang bertahan hingga kini adalah Ma’an (sebelah tenggara Petra), sebuah koloni penting di luar jalur perdagangan sebelah utara. Tulisan-tulisan Minea di dekat al-Ula danTabuk membuktikan keberadaan beberapa koloni di wilyah tersebut yang berfungsi sebagai gudang penyimpanan dan pos penghubung. Ibu kota orang-orang Minea, Qarnaw, yang dikunjungi Halevy pada 1870, adalah yang kini disebut kota Ma’in (sebelah selatan al-jawf, timur laut Shan’a). Kota metropolis keagamaan, Yatsril, yang juga berada di sebelah selatan al-jawf, kini disebut kota Baraqish, terletak di sebelah barat laut Ma’rib. Orang-orang Minea berbahasa sama dengan orang-orang Saba, dengan sedikit perbedaan dialek. Beberapa tulisan yang disebut tulisan Minea meliputi dokumen kerajaan orang-orang Qataban dan sejumlah kecil teks Hadramaut. Ukiran yang ditemukan pada reruntuhan kuil di al-Hazm, ibu kota provinsi al-Jawf, menggambarkan wadah yang tergantung, mungkin sesajen anggur, antelop, dan hewan-hewan kurban lainnya, ular yang dianggap sebagai simbol Tuhan, gadis-gadis penari yang juga menjadi pelayan di kuil, serta burung unta yang dikurung di dalam taman suci.
Selain kerajaan minea dan saba’ dua kerajaan penting lainnya yang muncul di wilayah ini adalah Qataban dan Hadramaut. Negeri qataban terletak di sebelah timur adan yang kini berada disekitar hadramaut. KerajaAN Monarki Qataban yang beribu kota di Tamna’ (kini bernama Kulhan), berdiri sekitar 400 hingga 50 SM, kerajaan Monarki Hadramaut yang beribu kota Syabwah ( pada masa lalu disebut Sabota ), berdiri dari abad kelima sebelum masehi hingga akhir abad pertama Masehi. Kerajaaan itu selama beberapa waktu berada dibawah kekuasaan kerajaan saba dan minea. Para sejarawan arab sedikitpun tidak mengetahui bangsa-bagsa itu yang tulisannya tersebar dari arab utara sampai etuopia yang mengatur perdagangan rempah-rempah dan mendirikan bangunan publik yang menakjubkan.
Dari 115 SM. dan seterusnya semua wilayah itu jatuh ke tangan penguasa baru yang datang dari dataran tinggi sebelah barat daya yaitu suku himyar. Sejak itu peradaban di daerah tersebut di sebut sebagai peradaban himyar meskipun gelar raja mereka tetap sama yaitu raja saba dan dhuraidan. Raidan kemudian dikenaL DENGAN SEBUTAN Qataban dan hal ini menandai akan awal munculnya kerajaan hiyar pertama yang berdiri hingga sekitar 300 M katahungoritae muncul pertama kali dalam the parrips of the aritrayancean sekiatr 60 M kemudian dalam karya pleni, orang himyar adalah kerabatdekat orang saba dan sebagai keturunan tertua dari rumpu n tersebut dan menjadi pewaris budaya dan perdagangan minea – saba’. Bahasa mereka praktis dengan bahasa orang saba’dan minea. Rujukan plini tentang adanya sistem pertanian memang terbukti dengan adanya sumur, bendungan dan tempat penampungan air yang sering di sebut dalam berbagai tulisan.mengumpulkan pohon dupa yang di pandang sebagai tibdakan religius masih menjadi sumber pendepatan terbesar
Zafar, ( pada masa kasik di sebutsappar dan separ/ sevar, dalam kitab kejadian. 10;30), kota di bagian dalam semenanjung, sekitar 100 Mil di sebelah timur laut Moha di atas jalan menuju san’a adalah ibukota dinasti himyar. Kota itu menggantikan posisi ma’rib, kota orang-orang saba’ dan kornau, kota orang-orang minea. Reruntuhannya masih dapat dilihat di puncak bukit dekat kota yarib.pada masa penyusunan teh parripess rajanya adalah karibail watar( caribael dalam the parriplus.)
Pada masa himyar inilah, pasukan romawi yang bernasib sial di bawah pimpinan aeliyus gallus berhasil masuk hingga daerah maryama. “ illasarus “ dari strabo yang merupakanpenguasa pada masa itu terteradalam berbagaibtulisan dengan nama Illi-syariha-yahdhub.
Raja dariperiode himyar pertama ini adalah seorang raja feodal yang tinggal di puri, memiliki tanah luas dan mencetak uang emas, perak dan perunggu, dengan menampilkan gambar wajahnya pada salah satu sisinya dan seekor burung hantu lambang orang-orang atena. (Hitti, 2008 : 68)

BAB III
PENUTUP

A.   Kesimpulan
         Sejarah mengenai kerajaan-kerajaan Arab utara sudah dikenal sejak masa Asyiria kuno dan Babilonia kuno. Dalam manuskrip-manuskrip Babilonia, misalnya, kita mengenal beberapa daerah Arab yang diserbu pasukan Babilonia, diantaranya adalah kerajaan Nabate (Nabasia, al-Anbaat). Selain itu, kita juga mengenal sebuah kota (oase) bernama Thema (Tayma) di tengah-tengah gurun pasir, yang merupakan tempat pengasingan Nabondius selama 7 tahun. Thema kemungkinan merupakan baian dari kerajan Nabate, dan dipercaya berada di semenanjung Arab, di sebelah tenggara kota Tabuk hari ini. Pada Kerajaan kerajaan pertama yang berhasil di ketahui yang berdiri di wilayah arab selatan pada zaman kuno adalah kerajaan saba’ dan minea yang selama beberapa abad hidup pada masa yang sama, kemudian kerajaan himyar pertama dan himyar kedua dan himyar kedua harus berahir karena raja dzunuwais yang mati tenggelam ketika abisinea  melakukan serangan politik internasional dengan 70.000 pasukannya dikarenakan dzunuwaiz melakukan pembunuhan besar-besaran terhadap orang Kristen yang dia anggap mereka lebih condong terhadap musuh yakni abisinea, kenudian abisinea memimpin hingga masa Abraham sebagai gubernur aksum yang melakukan serangan ke mekkah dikarenakan katedral yang dia bangun di san`a di lecehkan dengan dikotori oleh dua orang pagan dari suku fuqaim hal ini diabadikan dalam alqur`an dan bertepatan dengan kelahiran Rosulullah saw. 





             DAFTAR  PUSTAR  PUSTAKA

Al-mubarakfuri, syaikh shafiyurahman.2001.Perjalanan Hidup Rosul Yang Agung Muhammad saw.Jakarta: CV.Mulia Sarana Press.
Al-faruqi,Ismail R dan Lois Lamya Al-faruqi.1998.Atlas Budaya Islam.Bandung:Mizan
Hitti,Philip K.2010.History Of The Arabs.Jakarta:PT Serambi Ilmu Semesta.
Yatim,Badri.2008.Sejarah Peradabab Islam.Jakarta:PT RajaGrafindo Persada.


[1] William H. Frederick dan Soeri Soeroto (ed), pemahaman sejarah Indonesia, sebelum dan sesudah revolusi, Jakarta : LP3ES, 1982,hlm,1.
[2]Philip K. Hitti, history of the arabs, Kemang Timur : SERAMBI, 2008, hal 58. ( di alih bahasakan dengan bahasa penulis sendiri )
[3]Syalabi.Prof.Dr. sejarah kebudayaan islam, Jakarta Pusat: Pustaka Ahlusunnah,1987, hlm.30
[4]  teokrasi adalah bentuk kerajaan yang mana suatu kuasa ketuhanan mentadbir negeri insani duniawi, sama ada dalam bentuk jelmaan manusia, atau selalunya, melalui wakil institusi keagamaan (seperti gereja) yang mengambil tempat atau mendominasi kerajaan awam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar